EKOLOGI LAUT

ENERGI

Definisi energi suatu daya kerja atau tenaga, energi berasal dari bahasa Yunani yaitu energia yang merupakan kemampuan untuk melakukan usaha. Energi merupakan besaran yang kekal, artinya energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, tetapi dapat diubah dari bentuk satu ke bentuk yang lain.

Pengertian energi adalah suatu besaran turunan dengan satuan N.m atau Joule. Energi dankerja mempunyai satuan yang sama. Energi didefinikan sebagai tenaga ataugaya untuk berbuat sesuatu, yang secara umum didefinisikan sebagaikemampuan melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan kerja bisa didefinisikansebagai usaha untuk memindahkan benda sejauh S (m) dengan gaya F (Newton).

Bentuk energi terdapat dalam berbagai bentuk, pada pemabahasan ini disajikan bentuk energy, yaitu energi mekanis, thermis, kinetik, potensial, matahari, dan kimia.

HABITAT

Habitat adalah suatu tempat dimana makhluk hidup bertahan hidup.  habitat suatu organisme bisa juga disebut alamat organisme makhluk hidup.

Semua organisme atau makhluk hidup mempunyai habitat atau tempat hidup. Contohnya, habitat paus dan ikan hiu adalah air laut, habitat ikan mas adalah air tawar, habitat buaya muara adalah perairan payau, habitat monyet dan harimau adalah hutan, habitat pohon bakau adalah daerah pasang surut, habitat pohon butun dan kulapang adalah hutan pantai, habitat cemara gunung dan waru gununl; ndalah hutan Dataran tinggi, habitat manggis adalah hutan dataran rendah dan hutan rawa, habitat ramin adalah hutan gambut dan daerah dataran rendah lainnya, pohon-pohon anggota famili Dipterocarpaceae pada umumnya hidup di daerah dataran rendah, pohon aren habitatnya di tanah dataran rendah hingga daerah pegunungan, dan pohon durian habitatnya di dataran rendah.

Berdasarkan variasi habitat menurut waktu dibagi menjadi 4 yaitu :

1. Habitat yang konstan

Yaitu habitat yang kondisinya terus-menerus relatif baik atau kurang baik.

2. Habitat yang bersifat memusim

Yaitu habitat yang kondisinya relatif teratur berganti-ganti antara baik dan kurang baik.

3. Habitat yang tidak menentu

Yaitu habitat yang mengalami suatu periode dengan kondisi baik yang lamanya bervariasi diselang-selingi oleh periode dengan kondisi kurang baik yang lamanya juga bervariasi sehingga kondisinya tidak dapat diramal.

4. Habitat yang efemeral

Yaitu habitat yang mengalami periode dengan kondisi baik yang berlangsung relatif singkat diikuti oleh suatu periode dengan kondisi yang kurang baik yang berlangsungnya lama sekali.

RELUNG

Pengertian relung adalah “status fungsional suatu organisme dalam komunitas tertentu”. Dalam penelaahan suatu organisme, kita harus mengetahui kegiatannya, terutama mengenai sumber nutrisi dan energi, kecepatan metabolisme dan tumbuhnya, pengaruh terhadap organisme lain bila berdampingan atau bersentuhan, dan sampai seberapa jauh organisme yang kita selidiki itu mempengaruhi atau mampu mengubah berbagai proses dalam ekosistem.

Dimensi relung adalah toleransi terhadap kondisi-kondisi yang bervariasi (kelembapan, pH, temperatur, kecepatan angin, aliran air, dan sebagainya) dan kebutuhannya akan sumber daya alam yang bervariasi. Di alam, dimensi relung suatu spesies bersifat multidimensi. Relung dua dimensi contohnya adalah hubungan temperatur dan salinitas sebagai bagian dari relung kerang di pasir. Untuk relung tiga dimensi, contohnya adalah hubungan temperatur, pH, dan ketersediaan makanan sebagai bagian dari relung suatu organisme.

ADAPTASI

Adaptasi adalah kemampuan atau kecenderungan makhluk hidup dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru untuk dapat tetap hidup dengan baik.

B. Jenis-Jenis Dan Macam-Macam Adaptasi

1. Adaptasi Morfologi
Adaptasi morfologi adalah penyesuaian pada organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup. Misalnya seperti gigi singa, harimau, citah, macan, dan sebagainya yang runcing dan tajam untuk makan daging. Sedangkan pada gigi sapi, kambing, kerbau, biri-biri, domba dan lain sebagainya tidak runcing dan tajam karena giginya lebih banyak dipakai untuk memotong rumput atau daun dan mengunyah makanan.

2. Adaptasi Fisiologi

Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik. Contoh adapatasi fisiologis adalah seperti pada binatang / hewan onta yang punya kantung air di punuknya untuk menyimpan air agar tahan tidak minum di padang pasir dalam jangka waktu yang lama serta pada anjing laut yang memiliki lapisan lemak yang tebal untuk bertahan di daerah dingin.

 

3. Adaptasi Tingkah Laku
Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian mahkluk hidup pada tingkah laku / perilaku terhadap lingkungannya seperti pada binatang bunglon yang dapat berubah warna kulit sesuai dengan warna yang ada di lingkungan sekitarnya dengan tujuan untuk menyembunyikan diri.

Organisme yang mampu beradaptasi terhadap lingkungannya mampu untuk:

  • memperoleh air, udara dan nutrisi (makanan).
  • mengatasi kondisi fisik lingkungan seperti temperatur, cahaya dan panas.
  • mempertahankan hidup dari musuh alaminya.
  • bereproduksi.
  • merespon perubahan yang terjadi di sekitarnya.

Organisme yang mampu beradaptasi akan bertahan hidup, sedangkan yang tidak mampu beradaptasi akan menghadapi kepunahan atau kelangkaan jenis.

dan lanjutannya ada di blog :

http://wghiffary.wordpress.com/2011/04/04/adaptasi-evolusi-suksesi-primer-dan-sekunder-serta-faktor-pembatas/

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

OBJEK CAHAYA TERHADAP BIOTA LAUT

Cahaya adalah energi berbentuk gelombang elektromagnetik yang kasat mata dengan panjang gelombang sekitar 380-750nm. Pada bidang fisika, cahaya adalah radiasi elektromagnetik baik dengan panjang gelombang kasat mata maupun yang tidak. Cahaya disebut juga paket partikel foton. Kedua definisi ini adalah sifat “dualisme gelombang-partikel”.

Biota laut merupakan makhluk hidup yang ada di laut seperti hewan maupun tumbuhan atau karang.

Objek cahaya terhadap biota laut merupakan Kendala utama dalam pemanfaatan penginderaan jauh untuk pemetaan objek dasar perairan, sifat kolom air yang menyerap dan menghamburkan energy gelombang elektromagnetik sehingga mengurangi daya tembus cahaya ke dalam perairan. Kedalaman penetrasi gelombang elektromagnetik ke dalam kolom air bergantung pada panjang gelombang dan bahan-bahan terlarut dan tersuspensi yang ada dalam kolom air tersebut. Hasil penelitian jupp (1988) menunjukkan bahwa band-band yang bekerja pada spectrum cahaya tampak dapat mendetksi objek yang berada di bawah permukaan air. Salah satu citra penginderaan jauh satelit yang tersedia saat ini adalah ALOS ANVIR-2. Citra tersebut mempunyai resolusi spasial 10 meter dengan sensor-sensor yang bekerja pada band biru (o,42-0,50 um),hijau (0,52 – 0,60um),merah (0,61-0,69um) dan infra merah (o,76 -0,89 um). Ketersediaan band-band biru, hijau dan merah pada citra tersebut memungkinkan pemanfaatannya untuk mendeteksi objek di bawah permukaan air. Kendala lainnya adalah tercampurnya pantulan obyek dasar perairan dengan pantulan kolom air sehingga radiansi yang terekam oleh sensor tidak secara langsung menggambarkan obyek dasar perairan. Oleh karena itu diperlukan suatu algoritma yang dapat memisahkan antara radiansi obyek dasar perairan dan radiansi kolom air. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun algoritma pemisahan antara radiansi obyek dasar perairan dan radiansi kolom air yang terekam pada citra ALOS AVNIR-2. Pemisahan antara radiansi kolom air dan radiansi dasar perairan yang didasarkan pada rumusan :Lbi = Lei e2kiz – Lwi (e2kiz-1). Pengaruh kedalaman perairan (Z) terhadap radiansi kolom air (Lwi) pada citra ALOS AVNIR-2 dapat dinyatakan sebagai fungsi pangkat negative (negative power),yakni : Band-1 : Lwi = 96,473 z-0,980 ,  Band-2 : Lw2 = 83,169z-0,658,  Band-3 : Lw3 = 61,219 z-1,263 Pemisahan antara radiansi kolom air dan radiansi dasar perairan menghasilkan citra yang dapat menampilkan obyek dasar perairan secara lebih jelas. Klasifikasi maximum likelihood pada citra radiansi dasar peraiaran menghasilkan peta sebaran obyek dasar perairan dengan tingkat ketelitian mencapai 86 %.

Pengaruh besar negatif dan positif objek cahaya terhadap biota laut :

Sinar inframerah gelombang jauh (far infrared). Sinar matahari bisa dibagi menjadi cahaya terlihat dan cahaya tidak terlihat. Cahaya terlihat bisa dibiaskan menjadi warna ungu, biru, cyan, hijau, kuning, oranye dan merah. Cahaya diluar cahaya merah adalah cahaya tak terlihat di sebut sinar far infrared yang panjang gelombangnya antara 0,76 sampai 1000 mikrometer. Cahaya yang panjang gelombangnya berkisar antara 4-400 mikrometer di sebut sebagai far infrared, yang 90% di antaranya memiliki panjang 8-14 mikrometer dan para ahli menyebutnya sebagai Cahaya Kehidupan karena berguna bagi pertumbuhan hewan,dan biota laut lainnya. Dan pengaruh negatif terhadap biota-biota laut ini berdampak dari pemanasan global, dari pemanasan global itu sendiri akan menimbulkan berbagai dampak, salah satunya adalah perubahan tinggi permukaan lautan.

Hal ini berarti akan mengubah formasi lautan beserta seluruh biota laut yang hidup di dalamnya. Dengan demikian, secara tidak langsung pemanasan global akan memengaruhi proses kehidupan biota laut. Dan dapat dipastikan bahwa hal tersebut menimbulkan akibat yang buruk bagi kelangsungan hidup biota-biota laut.

Pemanasan global yang mengubah tinggi permukaan laut (menjadi semakin naik/tinggi) akan memengaruhi segala faktor yang merupakan pembatas kehidupan ekosistem biota laut. Jadi Bertambahnya volume dan meningkatnya tinggi permukaan air laut akan memengaruhi kedalaman penetrasi cahaya matahari menjadi semakin berkurang. Cahaya diperlukan oleh alga dalam proses fotosintesis guna memenuhi kebutuhan oksigen biota laut.

Dengan berkurangnya kedalaman penetrasi cahaya, maka laju fotosintesis akan menurun, contohnya terumbu karang, dalam hal pertumbuhan kemampuan karang untuk menghasilkan kalsium karbonat pembentuk terumbu akan menurun. Sehingga ekosistem terumbu karang (pada kedalaman 10 meter atau lebih) akan mengalami penurunan produktifitas dengan cepat dan dapat menyebabkan kematian. Dan positif itu sendiri kita dapat mengurangi dan menghentikan pemanasan global sebelum terlambat.

DAN APAKAH OBJEK CAHAYA BERPENGARUH TERHADAP MODEL UNDERWATER PHOTOGRAPHY ?

Sebenarnya tidak, jarak pemotretan yang ideal dalam foto bawah air tidak boleh lebih dari 3 meter meski kejernihan air sangat berpengaruh pada penentuan jarak pengambilan. Jarak pengambilan gambar berpengaruh pada detail. Semakin jauh jarak pengambilan gambar, semakin banyak detail yang hilang. Selain itu hal tersebut memunculkan banyak noise pada foto bawah air.

Hal lain yang perlu dipahami, arah datangnya cahaya dalam air. Apalagi, jika fotografer hanya mengandalkan available lighting. Pemotretan model dibawah air lebih bagus jika dilakukan saat matahari tidak terlalu tinggi. Yaitu sore dan pagi. Pada waktu itu, jatuhnya cahaya didalam air bisa membentuk cahaya Rembrandt. Pemotretan pada siang berdampak pada munculnya bayangan mirip kulit harimau yang disebabkan gerakan air dipermukaan. Top lighting tersebut bisa mengakibatkan bayangan pada cekung mata.

Di dalam air terjadi perubahan perspektif objek yang difoto. Penyebabnya, ada perbedaan index bias didalam air dan udara. Model menjadi lebih dekat dengan pemotretnya. Artinya ada perubahan jarak, seperti pada perubahan magnifikasi antara kamera analog dan DSLR APS. Objek di darat akan menjadi lebih dekat didalam air.

Hal penting lainnya, fotografer underwater tetap harus memahami bahwa cahaya yang masuk kedalam air akan mengalami absorbsi warna. Pada kedalaman 1-5 meter, tidak ada warna yang hilang. Pada kedalam 5-10 meter, warna merah akan hilang. Semakin kedalam warna yang dominan adalah hijau dan biru sehingga diperlukan baju model yang kontras dengan warna biru dan hijau.

Di dalam air akan terjadi pengurangan 2 stop exposure. Pengurangan exposure tersebut juga bergantung pada tingkat kedalaman. Penggunaan ISO 400 mengurangi penurunan exposure tersebut. Setelah itu kecepatan tidak boleh lebih rendah dari 1/125.

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Biota_laut

http://www.unhas.ac.id/lppm/index.php?option=com_content&view=article&id=85:bidang-ilmu-kelautan-dan-perikanan&catid=35:abstrak-2009&Itemid=63

http://helliumworks.blogspot.com/2010/08/model-underwater-photography.html

http://3.bp.blogspot.com/_yOHoM2CSXMQ/SYLt2wxTkjI/AAAAAAAAML4/qAs1H5tCV4I/s400/a17.jpg

http://www.scribd.com/doc/22898062/Laporan-praktikum-Plankton-di-wonorejo

http://www.scribd.com/doc/24004638/PENGARUH-NEGATIF-PEMANASAN-GLOBAL-BAGI-KELANGSUNGAN-HIDUP-EKOSISTEM-TERUMBU-KARANG


Posted in Uncategorized | 16 Comments

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment